Penulis: Ardian Syahputra
SINAR MEDAN | MEDAN
Leony Kristi Natalia Panggabean asal Kota Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), berhasil meraih gelar sarjana.
Gadis yang sudah Yatim ini, membagikan kisahnya kepada wartawan, Selasa (11/10/2022) pukul 18.44 wib.
Beragam faktor, seperti ketatnya persaingan kerja dan minimnya lowongan pekerjaan yang memadai, bisa jadi penghalangnya. Situasi inilah yang kerap dialami seseorang yang baru lulus kuliah.
Pemilik nama lengkap Leony Kristi Natalia Panggabean ini, merupakan lulusan Sarjana Teknik dari Universitas Mulawarman (Unmul) Kota Samarinda, Provinsi Kaltim.
Leony berasal dari jurusan teknik, mendapatkan predikat lulus dengan pujian. Wanita berparas tinggi dan cantik tersebut, berharap dapat bekerja sesuai dengan bidangnya.
Kelulusan Leony Kristi Natalia Panggabean meraih gelar sarjana, merupakan sebuah kebahagaian. Bukan hanya bagi diri sendiri, namun juga orangtua dan orang-orang yang menyayanginya.
Leony sapaan akrabnya, membagikan cerita membahagiakannya dengan penuh haru. Ia tak kuasa menahan tangis tatkala menceritakan kelulusannya jadi seorang sarjana yang menjadi buah kebahagiaan bagi orang tua dan adik-adiknya.
Tak hanya keluarga, sang ibu bernama Lenny Manullang juga memiliki peran penting karena sang ibu yang selalu mengajarkannya cara berhitung dan membaca sejak kecil.
Leony mengaku sangat dekat dengan ibunya dan selalu diingatkan agar tidak neko-neko, tetap rendah hati dan tidak sombong kepada siapapun.
"Puji Tuhan, aku bersyukur sekali atas penyertaan Tuhan yang luar biasa di dalam kehidupanku, khususnya selama perjalanan perkuliahanku sampai aku bisa mencapai gelar Sarjana Teknik," ucap Leony Kristi Natalia Panggabean.
Tidak mudah bagi dirinya, bisa mencapai ke titik itu dan menjadi seorang sarjana. Iapun mulai berbagi kisah proses perjalanan dan menyaksikan penyertaan Tuhan bagi hidupnya.
Leony menceritakan, awal masuk kuliah Tahun 2018, sebenarnya setengah hati menjalani perkuliahan. Penyebabnya, tak lain karena saat itu tidak bisa mencapai universitas yang diimpikan. Bisa dikatakan, terpaksa masuk kuliah di universitas saat ini lantaran tidak sesuai dengan keinginan dan impian dirinya.
Apalagi ketika awal masuk kuliah, sang ayah (Almarhum) divonis dokter mengidap penyakit kanker dan itu yang membuat hati Leony hancur lebur bagaikan tak punya arah yang menentu.
"Tapi seiring berjalannya waktu, aku jadi paham apa maksud Tuhan menaruh kuliah di tempat perkuliahan saat ini. Menyadari Tuhan menunjukkan jalan ternyata Ayahku harus dikemoterapi di kota tempat aku kuliah," tutur Leony Kristi Natalia Panggabean berlinang air mata, seraya bersedih karena saat dirinya berhasil menyabet gelar Sarjana Teknik tak bisa disaksikan ayahnya, Harjo Panggabean yang sudah tiada.
Ketika ayahnya divonis sakit kanker, ia mencoba memahami apa maksud Tuhan, sembari tak lupa bersyukur dimana saat itu bisa menemani ayahnya berobat (kemoterapi) sambil menjalani perkuliahan.
Saat menjalani kuliah, hatinya begitu sedih dan hancur bahkan, tak bisa konsentrasi lantaran ayahnya saat itu sedang berusaha melawan penyakit dan terbaring di rumah sakit.
"Ternyata Tuhan mau aku tetap dekat dengan bapak yang kala itu sakit, seiring berjalannya waktu kemoterapi bapak selesai dan bapak sembuh," kata Leony.
Tahun 2021 di semester 6 perkuliahannya, ayahnya kembali jatuh sakit dan tidak bisa menjalani kemoterapi di luar kota, karena waktu itu masih pandemi Covid-19 yang melanda dunia termasuk indonesia.
Akhirnya perkuliahan secara online, dilakukan dan tetap bisa tinggal di rumah menemani ayah tercinta serta membantu sang Ibu merawat ayah yang sakit.
Kondisi Kesehatan Ayah Buruk dan Tidak Fokus Kuliah
Pada semester 7, Leony mulai mengerjakan skripsi dan optimis bisa lulus di semester 8. Tapi kehendak Tuhan berkata lain, dipertengahan semester 7 ayahnya dipanggil Tuhan dan hari itu menjadi hari patah hati yang terbesar dalam hidupnya.
"Hatiku hancur sehancur-hancurnya sampai aku gak bisa melanjutkan perkuliahanku. Aku meninggalkan kuliahku dan gak melanjutkan kegiatan akademik di semester 7," akunya sedih.
Kemudian di awal Tahun 2022 semester 8 perkuliahan, Leony mulai stabil dan kembali bangkit dari keterpurukan untuk melanjutkan serta menyelesaikan kuliah. Ia bangkit pelan-pelan mengerjakan skripsi.
Ternyata tidak mudah, beberapa kali skripsinya ditolak dan sampai akhirnya di Bulan April baru bisa mendapat titik terang dan melakukan penelitian di suatu perusahaan ternama.
"Aku masih optimis bisa lulus di semester 8, tapi ternyata gak semudah itu. Mungkin aku terlalu keras ke diriku sendiri sampai aku sakit dan harus dirawat di rumah sakit lalu pemulihan 1 bulan, sehingga skripsiku mangkrak lagi. Setelah sembuh dan kuat, aku lanjut lagi mengerjakan skripsi dan berdoa sama Tuhan jangan lagi ada penghambat untuk lulus, aku gak mau membebani mamaku membayar kuliah lagi semester 9," bebernya.
Ibu Kecelakaan dan Progres Skripsi Terhambat
Leony mengira akan mudah dan baik-baik saja tapi, ternyata tidak seperti yang dibayangkan. Hambatan itu datang lagi dimana pada Bulan Juli 2022, ibunya mengalami kecelakaan yang saat itu posisi Ibu jauh dari dirinya maupun adik-adiknya. Ibunya kecelakaan di Kota Dumai (Riau), saat tengah ziarah pulang kampung dan menjenguk orang tua (nenek) Leony.
"Aku hancur dan stres, aku gak bisa membayangkan mamaku yang tinggal satu-satunya orang tuaku yang ada harus mengalami musibah seperti itu. Aku gak bisa fokus lagi. Progres skripsiku melambat lagi, targetku untuk lulus di semester 8 kandas," lanjutnya.
Untuk menyelesaikan skripsinya, dengan terpaksa ia extend (memperpanjang) ke semester 9. Leony terpuruk karena melihat teman-teman kuliahnya yang sudah lulus lebih dahulu. Ia sempat malu pada diri sendiri yang tertinggal dari teman-temannya.
"Puji Tuhan, aku punya mama yang luar biasa selalu mensupport aku untuk menyelesaikan skripsiku. Semakin hari mama semakin sehat dan pulih pasca kecelakaan, aku semangat lagi untuk menyelesaikan skripsiku," tuturnya.
Sampai akhirnya dekat di hari seminar hasil. Satu langkah lagi sebelum sidang dan beberapa hari sebelum hari seminar hasil, ia kecelakaan.
"Aku gak tau lagi apa yang harus aku lakukan, aku merasakan sakit dan kecewa kepada diri sendiri karena hidupku sesulit ini. Aku hanya bisa menangis setiap malam, meratapi keterpurukanku," terangnya.
Leony tidak mau kehilangan harapan dan tetap beriman kepada Tuhan, iya yakin Tuhan tidak akan meninggalkan dirinya. Karenanya walau masih belum pulih pasca kecelakaan, ia tetap melaksanakan seminar hasil.
"Puji Tuhan Semimar Hasilku berjalan dengan lancar, walau dengan kaki tangan yang masih diperban," kenangnya.
"Seminggu setelah melaksanakan Seminar Hasil, tibalah di hari Sidang Pendadaran ini. Puji Tuhan, Tuhan memberkati aku dengan kelulusan dengan nilai A," paparnya, seraya mengucap syukur luar biasa kepada Tuhan atas selesainya semua proses perkuliahannya.
Leony Kristi Natalia Panggabean ST menyadari, bahwa di atas segala cobaan-cobaan yang dialaminya, Tuhan tetap bersamanya dan tak akan pernah meninggalkan hidupnya.
(SM - Ardian Syahputra/Bonni)
