Penulis: Redaksi
SINAR MEDAN | JAMBI
Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (Komnas HAM), telah menemui keluarga Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat alias Brigadir J di Desa Suka Makmur, Kecamatan Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi baru-baru ini.
Dalam pertemuan itu, pihak keluarga menyampaikan harapan agar kasus yang menimpa anak mereka segera diusut hingga tuntas.
"Kemarin ada dari pihak Komnas HAM yang datang ke rumah, lalu kami ceritakan semua kejanggalan-kejanggalan yang terjadi pada anak kami ke Komnas HAM," kata bibi Brigadir Yoshua, Roslin Emika Hutabarat kepada detikSumut, Minggu (17/7/2022).
Roslin mengatakan, sejak awal keluarga merasa banyak yang janggal dari kematian Brigadir J. Kejanggalan-kejanggalan itu, sampai kini belum terjawab.
Mereka meminta, Komnas HAM dapat mengusut kasus itu sampai tuntas dan terang benderang.
"Kami berharap, atas permintaan seluruh keluarga agar kasus ini bisa diusut dengan baik dan transparan," ujar Roslin.
Roslin menyebut, ada 5 orang utusan dari Komnas HAM yang menjumpai keluarga. Tiba di rumah duka, Komnas HAM diberitahu semua dugaan kejanggalan kematian Yoshua, mulai dari luka tembak, luka memar serta luka sayatan.
Foto-foto dan video yang diambil keluarga, untuk menguatkan dugaan kejanggalan itu juga sudah diserahkan ke Komnas HAM.
Hal itu, bertujuan agar Komnas HAM dapat mengusut kasus kematian Brigadir Yoshua supaya keluarga tenang, terutama kedua orangtuanya.
"Semua baik foto video yang kami punya kami berikan ke pihak Komnas HAM, kami ingin ini bisa terungkap," beber Roslin.
Keluarga Brigadir J, ingin agar kasus kematian yang dialami oleh anaknya ini dapat diungkap secepatnya.
Komisioner Komnas HAM Choirul Anam menyebut, pihaknya sudah bertemu dengan keluarga Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat alias Brigadir J di rumah mereka di Muaro Jambi. Ada beberapa hasil yang diperoleh Komnas HAM dari pertemuan itu.
"Kami diberikan banyak keterangan, banyak foto, kami juga diberikan banyak video," kata Choirul.
Dalam video itu, Choirul belum mengungkapkan kapan Komnas HAM berangkat dan bertemu dengan keluarga Brigadir J di Jambi.
"Yang paling penting, dalam konteks itu adalah konteksnya. Jadi, foto itu diambilnya gimana, konteksnya apa dan penjelasan dari keluarga apa itu yang penting," imbuhnya.
Anam mengungkapkan, keluarga Brigadir J juga memberikan penjelasan terkait isu liar yang beredar di publik. Termasuk perihal dugaan peretasan yang dialami keluarga Brigadir J.
"Jadi kami ketemu sama sejumlah pihak keluarga dan kami ngambil keterangan banyak sekali dari siang sampai malam. Nah itu menurut kami satu proses yang baik," sambungnya.
Anam mengungkapkan, pertemuan dengan keluarga Brigadir J ini merupakan langkah awal Komnas HAM untuk mengungkap tabir misteri kasus penembakan Brigadir J oleh Bharada E di rumah Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo.
"Ini langkah pertama kami, jadi bertemu dengan keluarga adalah langkah pertama kami abis itu kami pasti akan panggil teman-teman di pihak yang lain," ucap Anam.
Komnas HAM sendiri, memang terlibat dalam pengusutan kasus kematian brigadir J. Mereka, akan bergerak bersama Kompolnas dan tim khusus yang dibentuk
"Kita akan bekerja, berkoordinasi untuk hal-hal tertentu yang kita pikir kita perlu. Misalnya, sebagai contoh, manakala Komnas HAM membutuhkan data-data forensik yang lebih mendalam, tentu kami akan meminta bahan-bahan yang ada di tim kepolisian," tutur Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik saat konferensi pers baru-baru ini.
"Sebaliknya, karena kami juga melakukan proses pemantauan penyelidikan ke berbagai tempat ya. Bisa jadi juga kami punya bahan-bahan yang kami miliki tetapi tidak dimiliki oleh tim khususnya Mabes Polri, kami bisa juga sharing," imbuhnya.
Kerja sama Komnas HAM dan Polri dalam mengusut kasus, bukan kali pertama ini terjadi. Dia menjelaskan, pengalaman kerja sama tersebut akan membuat pengusutan kasus menjadi lebih mudah.
(SM - Red/Det)